Penarikan Kesimpulan
Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu kesimpulan benar-benar mengikuti premis? Mari belajar menyusun argumen secara logis, runtut, dan dapat dipertanggungjawabkan.
PremisArgumenKesimpulan1. Pengertian Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan adalah proses memperoleh pernyataan baru berdasarkan satu atau lebih pernyataan yang telah diketahui.
Pernyataan yang dijadikan dasar disebut premis, sedangkan pernyataan yang diperoleh disebut kesimpulan.
Premis 2
─────────
∴ Kesimpulan
Simbol \(\therefore\) dibaca “oleh karena itu”. Kesimpulan yang sah harus mengikuti aturan penalaran yang benar, bukan sekadar terasa masuk akal.
2. Modus Ponens
Modus ponens digunakan ketika kita mengetahui suatu implikasi dan mengetahui bahwa bagian pertamanya benar.
\(p\)
\(\therefore q\)
Contoh
- Premis 1: Jika seorang siswa rajin berlatih, maka keterampilannya berkembang.
- Premis 2: Siswa itu rajin berlatih.
- Kesimpulan: Keterampilannya berkembang.
3. Modus Tollens
Modus tollens digunakan ketika suatu implikasi diketahui benar dan bagian akhirnya ternyata salah.
\(\neg q\)
\(\therefore\neg p\)
Contoh
- Premis 1: Jika sebuah bilangan habis dibagi 4, maka bilangan itu genap.
- Premis 2: Bilangan tersebut tidak genap.
- Kesimpulan: Bilangan tersebut tidak habis dibagi 4.
4. Silogisme Hipotetis
Silogisme hipotetis menggabungkan dua implikasi yang saling berhubungan.
\(q\rightarrow r\)
\(\therefore p\rightarrow r\)
Contoh
- Premis 1: Jika seseorang berlatih secara teratur, maka kemampuannya meningkat.
- Premis 2: Jika kemampuannya meningkat, maka ia dapat menyelesaikan tugas lebih baik.
- Kesimpulan: Jika seseorang berlatih secara teratur, maka ia dapat menyelesaikan tugas lebih baik.
Perhatikan bahwa kesimpulan menghubungkan pernyataan pertama dengan pernyataan terakhir.
5. Silogisme Disjungtif
Silogisme disjungtif digunakan ketika kita mengetahui bahwa paling tidak salah satu dari dua pernyataan benar, lalu mengetahui bahwa salah satunya salah.
\(\neg p\)
\(\therefore q\)
Bentuk sebaliknya juga sah:
\(\neg q\)
\(\therefore p\)
Contoh
- Premis 1: Hari ini kelas berlangsung di ruang A atau ruang B.
- Premis 2: Kelas tidak berlangsung di ruang A.
- Kesimpulan: Kelas berlangsung di ruang B.
Contoh ini menganggap bahwa kedua pilihan tersebut mencakup semua kemungkinan yang tersedia.
6. Ringkasan Aturan Penalaran
| Aturan | Premis | Kesimpulan |
|---|---|---|
| Modus Ponens | \(p\rightarrow q,\ p\) | \(q\) |
| Modus Tollens | \(p\rightarrow q,\ \neg q\) | \(\neg p\) |
| Silogisme Hipotetis | \(p\rightarrow q,\ q\rightarrow r\) | \(p\rightarrow r\) |
| Silogisme Disjungtif | \(p\lor q,\ \neg p\) | \(q\) |
7. Waspadai Kekeliruan Penalaran
Tidak semua pola yang terlihat mirip dengan aturan di atas merupakan penalaran yang sah.
\(q\)
\(\therefore p\) (tidak sah)
Contoh: Jika hujan, jalan bisa basah. Jalan basah. Tidak otomatis berarti hujan, karena jalan mungkin disiram.
\(\neg p\)
\(\therefore\neg q\) (tidak sah)
Contoh: Jika hujan, jalan basah. Tidak hujan. Jalan belum tentu kering karena mungkin disiram.
8. Simulasi Penalaran Interaktif
Pilih bentuk argumen untuk mengetahui apakah pola penalarannya sah.
9. Latihan Interaktif
Pilih jawaban yang paling tepat. Setelah selesai, klik Periksa Jawaban untuk memperoleh skor dan pembahasan.
10. Rangkuman dan Refleksi
- Modus ponens: \(p\rightarrow q,\ p\), maka \(q\).
- Modus tollens: \(p\rightarrow q,\ \neg q\), maka \(\neg p\).
- Silogisme hipotetis: \(p\rightarrow q,\ q\rightarrow r\), maka \(p\rightarrow r\).
- Silogisme disjungtif: \(p\lor q,\ \neg p\), maka \(q\).
Lihat jawaban contoh
Karena jalan dapat basah akibat hal lain, misalnya disiram. Premis hanya menyatakan bahwa hujan dapat mengakibatkan jalan basah, bukan bahwa hujan merupakan satu-satunya penyebab jalan basah.
